BERITAMAROS.MY.ID – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih ditemukan di sejumlah puskesmas di Kabupaten Maros.
Di tengah memburuknya kualitas udara akibat paparan kabut asap, masyarakat diminta mewaspadai gangguan pernapasan dan menjaga kesehatan.
Data Puskesmas Simbang mencatat 54 pasien ISPA dalam dua minggu terakhir hingga Ahad 11 Oktober 2026.
Pada periode yang sama, terdapat 37 pasien diare.
Sementara itu, Puskesmas Mandai menangani 155 kasus ISPA sepanjang September 2026.
Selain itu, tercatat 61 kasus diare dan 157 kasus demam pada periode yang sama.
Data tersebut menunjukkan ISPA menjadi salah satu masalah kesehatan yang ditangani puskesmas di Maros.
Kepala UPTD Puskesmas Simbang, Verawati Idris, mengatakan pasien ISPA yang berobat didominasi kelompok usia dewasa, yakni 19-59 tahun.
Adapun kasus diare ditemukan pada kelompok usia dewasa maupun anak-anak, termasuk balita.
Menurutnya, kondisi cuaca dan iklim dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi munculnya penyakit tersebut.
Meski demikian, kasus ISPA dan diare juga berkaitan dengan berbagai faktor lingkungan dan perilaku masyarakat.
“Faktor lain bisa jadi perilaku masyarakat, sanitasi, kualitas air, debu, asap, serta paparan lingkungan,” katanya kepada Tribun Timur, Ahad 11 Oktober 2026.
Untuk mengantisipasi peningkatan kasus, Puskesmas Simbang melakukan pemantauan rutin, deteksi dini, serta edukasi kepada masyarakat mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Petugas juga melakukan pengendalian faktor risiko serta meningkatkan pelayanan dan tindak lanjut terhadap pasien yang ditemukan.
“Jika terjadi peningkatan kasus, petugas akan melakukan penyelidikan epidemiologi dan intervensi sesuai kondisi di lapangan,” ujarnya.
Kepala Puskesmas Mandai, dr Fatmawati, mengimbau masyarakat menjaga kebersihan diri dan lingkungan, terutama ketika kualitas udara memburuk dan kondisi cuaca berubah.
Ia meminta masyarakat membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan makanan dan minuman, serta memastikan air yang dikonsumsi bersih dan aman.
Warga juga dianjurkan menjaga daya tahan tubuh, menghindari paparan debu dan asap berlebihan, serta menggunakan masker jika harus beraktivitas di lingkungan berdebu atau berasap.
“Jika mengalami gejala yang tidak kunjung membaik, segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Maros, Muhammad Yunus, meminta masyarakat, khususnya kelompok rentan, mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih buruk.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau gangguan kesehatan tertentu, perlu lebih berhati-hati terhadap paparan polusi udara.
Ia menjelaskan, ISPA merupakan kelompok penyakit yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung dan tenggorokan hingga bagian saluran pernapasan yang lebih dalam.
Gangguan ini dapat menimbulkan gejala seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan demam, bergantung pada penyebabnya.
Selain ISPA, gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai antara lain kekambuhan asma dan pneumonia atau infeksi pada jaringan paru-paru.
Namun, penyakit-penyakit tersebut memiliki penyebab dan karakteristik berbeda sehingga tidak dapat disimpulkan seluruhnya disebabkan oleh polusi udara.
“Faskes akan selalu siap untuk membantu jika ada warga yang terpapar akibat kabut asap ini. Tapi biar begitu, tentu saja pencegahan tetap menjadi langkah utama untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan. Makanya kami minta warga kembali lagi ketat penggunaan maskernya, dan mengurangi aktivitas di luar rumah,” ujarnya.
Dengan kondisi udara yang masih perlu diwaspadai, pemantauan kualitas udara dan perkembangan kasus di fasilitas kesehatan menjadi penting.
Masyarakat diharapkan mengikuti imbauan petugas kesehatan serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami gangguan pernapasan yang memburuk. (**)









