Kapolres Maros Klaim Antrean BBM karena Panic Buying

BERITA, PERISTIWA1509 Dilihat

BERITAMAROS.MY.ID –Antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, semakin panjang dalam beberapa hari terakhir.

Antrean didominasi kendaraan yang hendak mendapatkan BBM subsidi jenis Pertalite dan solar.

Sejumlah kendaraan berat bahkan mengular hingga menggunakan sisi badan jalan. Kondisi tersebut ikut berdampak terhadap kelancaran arus lalu lintas.

Kapolres Maros AKBP Devi Sujana menyebut salah satu faktor yang membuat BBM di sejumlah SPBU lebih cepat habis adalah panic buying.

Menurutnya, kepanikan muncul setelah beredar isu mengenai kelangkaan maupun pengurangan kuota BBM.

“Jadi masyarakat yang sebelumnya belum membutuhkan BBM ikut mengisi tangki hingga penuh karena khawatir stok habis,” katanya, Jumat 11 September 2026.

Ia mengatakan masyarakat yang termakan isu tersebut cenderung membeli BBM lebih banyak dari kebutuhan biasanya.

“Misalkan seharusnya dia belum saatnya isi, walaupun masih ada, isi full misalkan, apalagi yang perjalanannya jauh,” katanya.

Kondisi itu semakin terasa di Maros karena daerah tersebut merupakan salah satu jalur perlintasan kendaraan, termasuk kendaraan yang melakukan perjalanan jarak jauh.

“Otomatis ketika mereka melakukan perjalanan ke luar kota, di sini teman-teman ini ngisi full,” bebernya.

Menurutnya, pola pembelian tersebut membuat stok BBM di SPBU lebih cepat terserap. Akibatnya, antrean kendaraan pun semakin panjang, terutama di SPBU yang menjadi titik pengisian kendaraan berat.

Meski sejumlah SPBU dilaporkan kehabisan Pertalite, Devi menyebut kondisi stok BBM secara umum masih normal.

Polres Maros telah melakukan pemantauan dan pengamanan di sejumlah SPBU untuk mengantisipasi kondisi di lapangan.

Setiap SPBU minimal ditempatkan satu anggota kepolisian. Jumlah personel dapat ditambah jika situasi membutuhkan pengamanan lebih.

“Yang jelas anggota Polsek satu orang, nanti untuk Polantas pasti ada juga di sana,” katanya.

Namun, ia mengakui pengaturan antrean kendaraan berat bukan persoalan mudah. Menurutnya, jika truk dan kendaraan besar dilarang mengantre di sekitar SPBU demi mencegah kemacetan, persoalan baru akan muncul karena tidak ada lokasi lain bagi kendaraan tersebut untuk menunggu.

“Kalau kita larang benar-benar ngantre di sana sehingga tidak ada kemacetan, kasihan juga sopir-sopir itu, ngantrenya di mana nanti? Apalagi truk-truk itu kan besar-besar,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta masyarakat tetap bersabar dan tidak mudah terpengaruh informasi mengenai pengurangan BBM.

Di tengah kondisi tersebut, muncul pula dugaan adanya permainan dalam distribusi BBM.

Terkait dugaan itu, Devi mengaku sejauh ini belum menemukan indikasi adanya permainan. Meski demikian, ia memastikan penyelidikan tetap terbuka apabila masyarakat memiliki informasi atau bukti yang mengarah pada dugaan praktik ilegal.

“Kita tindak lanjuti secara hukum,” tegasnya.

Ia mengatakan pihak yang terbukti melakukan praktik ilegal terkait BBM akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Menurutnya, penindakan terhadap dugaan mafia BBM dapat mengacu pada ketentuan dalam Undang-Undang Migas.

“Itu pidananya dapat mencapai lima tahun penjara,” tuturnya.

Sementara itu, Sopir Truk, Rahim mengatakan kondisi kelangkaan ini sudah terjadi dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.

Ia menjelaskan kelangkaan solar tak hanya terjadi di Kabupaten Maros saja. Namun juga dari Kota Makassar hingga ke Kabupaten Wajo.

“Kalau daerah ke bawah itu lebih susah lagi dapat solarnya,” katanya.

Pria yang hendak ke Kendari, Sulawesi Tenggara untuk membawa muatan mie instan itu pun mengaku terhambat akibat kelangkaan solar ini.

Apalagi untuk mendapatkan solar, dirinya bahkan harus menunggu lama di SPBU.

“Kalau normal hanya butuh 2 hari saja untuk sampai di Kendari, namun karena solar langka, bisa lebih lama lagi,” katanya. (**)

DPRD Kabupaten Maros

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *