Warga Maros Perlu Tahu: Sejarah Idul Adha dan Asal Usul Ibadah Kurban

BERITA, PENGETAHUAN375 Dilihat

Idul Adha merupakan hari raya umat Islam yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Pada Hari Raya Idul Adha ini umat muslim disunnahkan untuk menyembelih hewan kurban bagi yang mampu.

Selain kisah penyembelihan Nabi Ismail oleh ayahnya, Nabi Ibrahim, ternyata ada cerita menarik lain yang perlu diketahui sebagai umat Islam terkait ibadah kurban ini. Lantas seperti apa kisahnya?

Berikut ulasan lengkap sejarah Idul Adha dan asal usul kurban sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber.

Sejarah dan Asal Usul Kurban Pertama Kali di Muka Bumi

Perintah pelaksanaan ibadah kurban tidak lepas dari kisah Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail. Namun, tahukah sejarah pelaksanaan kurban pada dasarnya berawal dari kisah Qabil dan Habil, anak Nabi Adam AS.

Mengutip jurnal UIN Banten berjudul “Tentang Qurban (Studi Riwayat dan Hikmahnya)”, riwayat kurban bermula dari generasi pertama umat manusia, yakni Qabil dan Habil. Kurban pertama kali dilakukan oleh anak-anak Nabi Adam tersebut dalam menentukan siapa yang berhak mempersunting saudarinya, Iqlima.

Untuk mengatasi perselisihan tersebut, Nabi Adam AS., meminta kedua putranya untuk menyembelih hewan kurban. Dengan ketentuan, siapa yang kurbannya diterima oleh Allah SWT, maka dialah yang berhak mempersunting Iqlima.

Habil yang seorang pengembala mengorbankan seekor kambing yang gemuk. Sementara Qabil yang merupakan seorang petani mengorbankan segenggam hasil panennya yang paling jelek.

Kemudian ditaruhlah kedua persembahan kurban itu di atas sebuah bukit. Keduanya bersama Nabi Adam menyaksikan dari jauh apa yang akan terjadi terhadap dua macam kurban itu.

Ternyata binatang kurban milik Habil itu musnah termakan api. Sedangkan gandum Qabil tidak tersentuh sedikitpun oleh api dan tetap utuh.

Kisah pengorbanan kedua anak Adam ini tertuang dalam Al-Qur’an surah al-Maidah ayat 27:

۞ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa’.”

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa kurban milik Habil yang berupa domba yang gemuklah yang diterima oleh Allah SWT karena bentuk ketakwaannya. Sementara Qabil, karena ketidakikhlasannya, sehingga kurbannya tidak diterima oleh Allah SWT.

Itulah sejarah dan asal-usul pertama kali kurban dilakukan di muka bumi ini, yakni kurban yang dilakukan oleh Habil dan Qabil, putra-putra Nabi Adam AS.

Sejarah Idul Adha dan Disyariatkannya Berkurban

Meskipun kegiatan berkurban pertama kali dilakukan sejak masa Nabi Adam AS, namun syariat untuk berkurban ini baru muncul pada masa Nabi Ibrahim AS.

Menukil buku “Di Balik 7 Hari Besar Islam” karya Muhammad Sholikhin, para ulama tafsir menyebutkan bahwa ibadah kurban yang dilakukan oleh putra Nabi Adam bukanlah merupakan syariat, melainkan terkait dengan alasan lain dalam diri Habil dan Qabil.

Sehingga para ulama berpendapat bahwa syariat berkurban itu muncul pada masa Nabi Ibrahim AS.

Ibadah kurban dengan bentuk penyembelihan hewan ternak domba, kambing, sapi, kerbau dan unta merujuk pada peristiwa sejarah Nabi Ibrahim yang diperintah untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail AS.

Dikisahkan Nabi Ibrahim AS., diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya melalui mimpi dan saat mendapat perintah itu, Ibrahim pun begitu terpukul hingga dirinya roboh dan tak berkutik.

Dengan hati-hati, diceritakannya mimpi tersebut kepada anaknya, Ismail AS.

Namun Ismail AS., menanggapinya dengan berjiwa besar. Ia tidak merasa keberatan sedikitpun bahkan mendorong ayahnya agar tidak ragu-ragu melaksanakan perintah Tuhan Semesta Alam.

Melihat ketegaran putranya, Ibrahim AS., pun teguh dengan mimpinya. Hatinya pun tenang dalam kepasrahan kepada Allah SWT.

Ayah dan anak inipun bersiap untuk menjalankan perintah Tuhannya.

Ismail siap disembelih.

Ibrahim membaringkannya, kemudian mengambil pisau yang sudah diasah terlebih dahulu. Sejurus, diayunkannya pisau tajam tersebut ke arah Ismail.

Namun, seketika itulah Allah SWT memanggil Ibrahim. Karena kepasrahannya, Allah menerima pengorbanan Ibrahim. Allah pun memerintahkkan agar mengurungkan penyembelihan Ismail.

Sebagai gantinya, di situ sudah tersedia seekor hewan sembelihan (udl-hiyyah) yang besar, sehat dan gemuk.

Kisah pengurbanan Nabi Ibrahim dan Ismail ini tertuang dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaffat ayat 102-107:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ (102) فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ (103) وَنَادَيۡنٰهُ اَنۡ يّٰۤاِبۡرٰهِيۡمُۙ (104) قَدۡ صَدَّقۡتَ الرُّءۡيَا ۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجۡزِى الۡمُحۡسِنِيۡنَ‏ (105) اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الۡبَلٰٓؤُا الۡمُبِيۡنُ‏ (106) وَفَدَيۡنٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيۡمٍ‏ (107)

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar (102). Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah) (103). Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim!” (104). Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.”1 Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (106). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (107).

Perintah untuk Berkurban dalam Islam

Sementara terkait disyariatkannya ibadah kurban pertama kali, menurut Prof Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu Juz 4, yakni pada tahun ketiga Hijrah bersamaan dengan zakat dan salat hari raya.

Perintah kurban tersebut temaktub dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma para ulama. Allah SWT berfirman dalam surah Al Kautsar ayat 2:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

Artinya: “Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!” (QS Al Kautsar: 2).

Selain itu, firman yang menjelaskan perintah kurban juga terdapat dalam surah Al Hajj ayat 36, yang artinya:

“Unta-unta itu Kami jadikan untukmu sebagai bagian dari syiar agama Allah.”

Adapun hadits yang menjelaskan ibadah kurban salah satunya dalam riwayat yang berasal dari Aisyah RA. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada satu amal pun yang dilakukan anak cucu Adam pada hari raya kurban yang lebih dicintai Allah SWT dibandingkan amalan menumpahkan darah (hewan). Sesungguhnya ia (hewan-hewan yang dikurbankan itu) pada hari kiamat kelak akan datang dengan diiringi tanduk, kuku, dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darah yang ditumpahkan (dari hewan itu) telah diletakkan Allah SWT di tempat khusus sebelum ia jatuh ke permukaan tanah. Oleh karena itu, doronglah diri kalian untuk suka berkurban.” (HR al Hakim, Ibnu Majah, dan at Tirmidzi yang mengatakan kualitas hadits ini hasan gharib).

Makna Idul Adha Sebagai Hari Raya Kurban

Penyebutan Hari Raya Idul Adha disebut Hari Raya Kurban lantaran Hari Raya Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban.

Idul Adha berasal dari bahasa Arab yakni idul dan adha. Idul atau id diambil dari kata “ada yaudu” yang artinya kembali. Sedangkan, adha merupakan jamak dari adhat yang berasal dari kata udhiyah, maknanya kurban.

Jadi, Idul Adha dapat diartikan sebagai kembali berkurban atau hari raya penyembelihan hewan kurban. (**detikcom)

DPRD Kabupaten Maros

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *