Seekor buaya muara sepanjang tiga meter berhasil dievakuasi oleh tim Pemadam Kebakaran Maros pada Jumat 9 Mei 2025.
Buaya tersebut terjebak di keramba milik nelayan di Dusun Binanga Sangkara Desa Ampekale Kecamatan Bontoa.
Proses evakuasi berlangsung dramatis dan memakan waktu sekitar dua jam, dimulai pukul 11.58 Wita. Sejumlah personel Damkar dikerahkan dan harus bekerja ekstra hati-hati karena buaya berada dalam kondisi aktif dan agresif di dalam keramba.
Kepala Bagian Operasional Damkar Maros, Awaluddin, menjelaskan bahwa tim menggunakan empat tali, dua tongkat, dan jaring untuk mengamankan reptil buas tersebut.
“Kami mengikat bagian vital buaya dan membungkusnya dengan jaring. Namun sempat terjadi kendala karena beberapa kali tali terlepas dari mulut buaya,” ungkapnya.
Buaya tersebut diduga berasal dari muara di wilayah tetangga dan terseret arus hingga masuk ke area keramba nelayan.
Setelah berhasil diamankan, pihak Damkar segera berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk penanganan lebih lanjut.
Dalam proses evakuasi ini, dua personel mengalami luka.
“Satu petugas terkena goresan karang di bagian kaki, sementara satu lainnya mengalami luka ringan,” tambahnya.
Sebelumnya, Tim Animal Rescue dari Damkar Maros telah mengevakuasi sebanyak 96 ekor reptil dari permukiman warga dalam rentang waktu Januari hingga April 2025.
Hewan-hewan liar ini terdiri atas 68 ekor ular dan 28 ekor biawak.
Plt Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Maros, Eldrin Saleh Nuhung, mengungkapkan evakuasi reptil paling banyak dilakukan di Kecamatan Turikale, yang merupakan wilayah padat penduduk sekaligus pusat aktivitas masyarakat.
“Wilayah Turikale memang paling sering menjadi lokasi evakuasi. Kemungkinan karena kawasan ini terus berkembang, dan berdampingan dengan area yang dulunya merupakan habitat alami hewan-hewan tersebut,” jelasnya, mengutip Tribun Timur.
Mantan Sekwan Maros ini mengatakan proses evakuasi reptil biasanya berlangsung antara 10 hingga 60 menit, tergantung pada kondisi di lapangan.
“Tim Animal Rescue Damkar Maros dilengkapi dengan peralatan khusus dan telah dilatih menangani satwa liar agar tidak membahayakan warga maupun tim evakuasi,” sebutnya.
Setelah dievakuasi, ular dan buaya diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk selanjutnya dikembalikan ke habitat alaminya.
“Sementara itu, biawak umumnya dilepasliarkan kembali ke lokasi yang jauh dari permukiman,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, maraknya kemunculan reptil di kawasan permukiman tak lepas dari beberapa faktor.
“Penyebab utamanya adalah hilangnya habitat alami akibat pembangunan, berkurangnya sumber makanan, dan perubahan cuaca ekstrem,” tuturnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik jika menemukan hewan liar di sekitar rumah.
“Segera hubungi Damkar atau layanan terkait agar bisa ditangani secara aman,” pungkasnya.
Sehari sebelumnya, seekor biawak berukuran 1 meter “bertamu” ke kantor Bupati Maros, Jalan Jenderal Sudirman, Rabu 7 Mei 2025 sore. Biawak yang terlihat di area lobi tersebut langsung dihalau dua personel Satpol PP.
Bupati Maros, Chaidir Syam yang tengah melintas pun kaget melihat keberadaan biawak tersebut.
“Seekor biawak akan melakukan audiensi di Kantor Bupati Maros, Pemadam tolong,”canda Chaidir dalam sebuah video pendek. (**)







