Dua Wakil Menteri Tinjau Pelaksanaan Skrining TBC di Maros

BERITA, NASIONAL182 Dilihat

Dua wakil menteri melakukan kunjungan kerja di Kabuoaten Maros, kunjungan ini untuk meninjau pelaksanaan skrining tuberkulosis (TBC) terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Keduanya adalah Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Benjamin Paulus Octavianus bersama Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) RI Akhmad Wiyagus.

Kegiatan berlangsung di Aula Kantor Camat Mandai Kabupaten Maros, Jumat 7 Agustus 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Wamenkes menegaskan pemerintah kini memfokuskan percepatan penanggulangan TBC melalui pelacakan kontak erat (tracing), bukan hanya mengobati pasien yang telah terdiagnosis.

Menurutnya Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 1,09 juta kasus TBC. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen kasus telah berhasil ditemukan.

“Kalau untuk mengobati di Indonesia sudah cukup bagus. Yang kita lagi perjuangkan itu menemukan kasus. Selama ini penemuan kasus meningkat dari 48 persen menjadi 80 persen,” katanya.

Ia mengatakan tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC ikut menjalani pemeriksaan. Sebab, TBC merupakan penyakit menular sehingga orang yang belum menunjukkan gejala tetap berisiko terinfeksi.

“Jangan cuma mengobati yang sakit. Orang di rumah yang tertular harus dicek, sudah sakit atau belum. Kalau belum sakit tapi kontak erat, diberikan obat pencegahan. Kalau sakit langsung diobati. Dengan begitu, dua sampai tiga tahun ke depan kasus TBC di Indonesia bisa turun drastis,” ujarnya.

Ia menilai stigma masyarakat terhadap TBC kini semakin berkurang seiring masifnya edukasi yang dilakukan pemerintah. Menurutnya, angka keberhasilan pengobatan TBC di Indonesia telah melampaui 90 persen, bahkan di sejumlah daerah mencapai 97 persen.

“Jadi stigma itu sudah kecil sekali. Hari ini orang sudah tidak terlalu takut dengan TBC,” katanya.

Ia menjelaskan, Kementerian Kesehatan kini mengoptimalkan data pasien TBC yang telah terdiagnosis untuk kemudian melakukan pelacakan terhadap seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah.

Pemeriksaan dilakukan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menggunakan portable X-Ray sehingga masyarakat tidak harus datang ke puskesmas.

“Yang rumahnya di gunung-gunung juga kita datangi. Pemeriksaan dilakukan di desa-desa. Itulah cara extraordinary yang sedang kita kerjakan bersama pemerintah daerah,” jelasnya.

Pemerintah telah menjamin ketersediaan obat bagi pasien TBC. Namun, fokus utama saat ini adalah menemukan orang yang sudah tertular tetapi belum menyadari kondisinya.

“Yang jadi masalah adalah orang yang sudah tertular tetapi belum tahu akan sakit. Itu yang sekarang kita kerjakan melalui tracing,” katanya.

Ia juga memastikan pemerintah akan mendistribusikan perangkat X-Ray ke puskesmas di seluruh Indonesia guna mempercepat skrining dan penemuan kasus TBC.

“X-Ray-nya akan dikirim ke seluruh puskesmas se-Indonesia,” pungkasnya.

Wakil Bupati Maros Muetazim Mansyur menyampaikan Kabupaten Maros saat ini baru memiliki tiga unit mesin Tes Cepat Molekuler (TCM) dan satu unit portable X-Ray. Menurutnya, jumlah tersebut belum memadai untuk melayani sasaran yang tersebar di 14 kecamatan.

“Untuk mempercepat penemuan kasus TBC, kami masih membutuhkan tambahan minimal 13 unit mesin TCM dan satu unit portable X-Ray with AI. Kami juga berharap distribusi NPOC dapat dipercepat agar penemuan kasus di tingkat komunitas semakin optimal,” katanya.

Selain penguatan sarana kesehatan, Pemkab Maros telah membentuk Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TBC) mulai tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa dan kelurahan.

Sebanyak 103 desa dan kelurahan telah ditetapkan sebagai Desa-Kelurahan Siaga TBC yang diperkuat melalui pembentukan Unit Kesehatan Desa-Kelurahan (UKDK) dengan melibatkan perawat, bidan, dan kader kesehatan.

“Implementasi Desa Siaga TBC menjadi strategi penting dalam mewujudkan target eliminasi TBC pada 2030. Dukungan seluruh stakeholder sangat dibutuhkan agar program ini berjalan maksimal,” ujarnya.

Ia juga berharap pemerintah pusat memberikan dukungan pendanaan melalui Dana Alokasi Khusus Non Fisik (DAK NF) maupun Alokasi Dana Desa (ADD) untuk memperkuat pergerakan tenaga kesehatan dan kader Duta SIPAKATU sebagai ujung tombak penemuan kasus di lapangan.

Ia menambahkan, Kabupaten Maros telah mengembangkan inovasi berbasis kearifan lokal bernama SIPAKATU sebagai strategi percepatan penanggulangan TBC.

Data menunjukkan capaian penemuan kasus TBC terus meningkat. Pada 2024 ditemukan 943 kasus atau 54,82 persen dari target 1.720 kasus. Tahun 2025 meningkat menjadi 998 kasus atau 58,13 persen dari target 1.717 kasus. Sementara hingga semester I 2026 telah ditemukan 546 kasus atau 32,13 persen dari target tahunan.

Skrining suspek TBC juga mengalami peningkatan, yakni dari 6.668 kasus pada 2024 atau 79,77 persen dari target menjadi 9.014 kasus pada 2025 atau 108,03 persen. Hingga semester I 2026 tercatat 6.256 kasus dari target 9.174 kasus.

Meski demikian, angka keberhasilan pengobatan atau treatment success rate (TSR) masih berada di bawah target nasional 90 persen. Pada 2024 angkanya mencapai 84,55 persen, tahun 2025 sebesar 84,15 persen, sedangkan semester I 2026 tercatat 74,02 persen.

“Karena itu dukungan pemerintah pusat melalui kegiatan Active Case Finding berbasis portable X-Ray with AI yang diintegrasikan dengan Cek Kesehatan Gratis sangat membantu mempercepat penemuan kasus, terutama pada kontak erat pasien TBC,” jelasnya.

Hingga saat ini, dari target 86 lokasi skrining dengan sekitar 8.600 sasaran, kegiatan telah dilaksanakan di 16 lokasi yang menjangkau 1.600 peserta.

Hasil skrining menunjukkan 200 orang mengalami kelainan yang mengarah ke TBC, 204 orang mengalami kelainan selain TBC, dan 1.042 orang dinyatakan normal.

Sebanyak 438 orang terduga TBC, 437 di antaranya telah menjalani pemeriksaan TCM, sementara 57 orang dipastikan terdiagnosis TBC yang terdiri atas 54 kasus klinis dan tiga kasus bakteriologis.

Selain itu, sebanyak 206 peserta menjalani tes tuberkulin dan 39 orang memperoleh Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, Muhammad Yunus, mengatakan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) penanganan TBC di Kabupaten Maros pada 2026 telah mencapai 67 persen. Sementara itu, capaian pasien TBC Sensitif Obat (SO) yang berhasil diobati mencapai 93 persen.

“Capaian standar pelayanan minimal TBC Maros tahun 2026 sudah 67 persen. Sedangkan capaian kasus TBC SO yang diobati mencapai 93 persen,” katanya.

Yunus menjelaskan, program skrining TBC menyasar tiga kelompok utama, yakni kontak erat, kontak serumah, dan populasi berisiko.

“Saat ini kami fokus dulu pada kontak erat dan kontak serumah,” ujarnya.

Ia menyebutkan, Kabupaten Maros memiliki 86 lokasi (lokus) pelaksanaan skrining TBC. Hingga saat ini, kegiatan tersebut telah dilaksanakan di 16 lokus.

Ia mengatakan peserta yang hasil pemeriksaan rontgen dadanya menunjukkan indikasi TBC akan menjalani pemeriksaan lanjutan melalui tes dahak untuk memastikan diagnosis.

Pengambilan sampel dahak dapat dilakukan di Pojok SIPAKATAU yang telah disiapkan di lokasi layanan. (**)

 

DPRD Kabupaten Maros

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *