Chaidir Syam terpilih lagi menjadi Bupati Maros, Sulawesi Selatan. Bersama Wakil Bupati Maros Muetazim Mansyur, Chaidir Syam mengusung konsep Maros Sejuk untuk membangun Maros.
Dalam Podcast Gebrakan Sang Pemimpin yang tayang di YouTube Tribun Timur, Minggu (24/2/2025), Chaidir Syam memaparkan program kerja yang akan dijalankan.
Dipandu Host Fiorena Jieretno, berikut petikan wawancaranya:
Awal karier politik?
Saya memulai di dunia politik pada masa reformasi sekitar 25 tahun yang lalu. Sejak tahu 1999.
Alasan memilih dunia politik?
Waktu itu saya memang memiliki latar belakang yang sesuai. Saya adalah alumni Ilmu Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin. Setelah lulus kuliah tahun 2000, awalnya saya terjun di NGO sebelum masuk ke politik.
Waktu itu bergerak dalam program Sulawesi Water and Sanitation serta PSP untuk irigasi. Program-program ini banyak bersentuhan dengan masyarakat. Dari pengalaman inilah akhirnya saya merasa terpanggil untuk masuk ke dunia politik.
Jadi bekal penting?
Tentu saja. Saya memang menyukai dunia organisasi. Saya merasa bahagia ketika berorganisasi karena bisa bertemu banyak orang, bersahabat, dan menambah kapasitas diri.
Orang tua mendukung?
Meskipun sebagai anak tunggal saya sangat dijaga, ibu tetap memberi saya ruang untuk berkembang. Doa ibu juga sangat berperan. Sejak kelas 1 SMA, saya sudah kehilangan ayah karena beliau meninggal. Sejak saat itu, saya hidup hanya berdua dengan ibu, dan doa beliaulah yang menjadi bekal utama saya hingga saat ini.
Faktor utama PAN unggul?
Alhamdulillah, PAN di Maros telah diterima oleh masyarakat dalam tiga hingga empat periode terakhir. Kebangkitan PAN di Maros diawali dari kepemimpinan Hatta Rahman yang saat itu menjabat sebagai ketua PAN sekaligus Wakil Ketua DPRD Maros. Saya saat itu menjadi sekretaris.
Kinerja yang baik dari PAN serta para anggota legislatif yang terpilih membuat masyarakat semakin percaya kepada kami. Inilah yang menyebabkan PAN terus berkembang, dari hanya satu kursi menjadi tiga, lalu lima, kemudian 10 kursi.
Sempat terjadi penurunan kursi?
Pada pemilu 2019, kami sempat mengalami penurunan dari 10 kursi menjadi 6 kursi. Namun, jumlah suara PAN tetap unggul dibandingkan partai lain. Saat itu, Partai Golkar mendapat 32 ribu suara dengan 7 kursi, sementara PAN memperoleh 39 ribu suara tetapi hanya mendapatkan 6 kursi. Meski demikian, Alhamdulillah dengan kerja keras dan kepercayaan masyarakat, kami bisa bangkit kembali dari 6 kursi menjadi 12 kursi, meningkat 100 persen.
Perjalanan dari DPRD?
Saya telah menjalani 13 tahun di DPRD, yang setara dengan empat periode. Periode awal saya PAW hanya berjalan dua tahun, lalu saya terpilih kembali sebagai Wakil Ketua DPRD, kemudian menjadi Ketua DPRD, lalu kembali menjadi Wakil Ketua DPRD sebelum akhirnya maju di Pilkada dan terpilih sebagai bupati. Perjalanan ini penuh tantangan, terutama ketika saya dilantik sebagai bupati pada tahun 2021, di tengah kondisi pandemi Covid-19.
Dampak pandemi?
Saat pandemi, pertumbuhan ekonomi Maros anjlok hingga minus 10 persen, menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi terburuk kedua di Sulsel. Namun kami berusaha bangkit dan Alhamdulillah pada tahun 2022-2023, pertumbuhan ekonomi Maros meningkat menjadi 9,35 persen, menjadikannya daerah dengan pertumbuhan ekonomi terbaik kedua di Sulsel. Ini adalah hasil kerja keras seluruh masyarakat Maros yang ingin bangkit dari pandemi.
Titipan utama masyarakat?
Macam-macam, tetapi yang paling banyak adalah permintaan untuk melanjutkan pembangunan. Selama dua bulan kampanye, saya manfaatkan waktu sebaik mungkin. Saya mengunjungi 527 titik, sekitar 10 titik per hari untuk bersilaturahmi dan mendengar aspirasi masyarakat.
Wakil saya juga mengunjungi sekitar 238 titik, belum lagi tim lainnya. Ada yang meminta pembangunan dilanjutkan, ada yang memberikan masukan, bahkan ada yang mengkritik saya. Itu semua wajar dan saya terima dengan baik.
Program belum sempat terealisasi?
Karena seharusnya kami menjalankan pemerintahan selama lima tahun, tetapi hanya empat tahun. Masa jabatan saya seharusnya berakhir pada 25 Februari 2026. Jadi, ada pengurangan satu tahun masa kerja.
Ditambah lagi, awal kepemimpinan kami pada 2021-2022 masih dalam kondisi pandemi, sehingga fokus utama kami saat itu adalah kesehatan, sosial, dan ekonomi masyarakat.
Program prioritas utama waktu itu?
Dua sektor utama yang kami maksimalkan adalah pendidikan dan kesehatan. Dalam tiga tahun terakhir, APBD Kabupaten Maros dialokasikan secara besar untuk dua sektor ini. Namun, kami tetap memperhatikan pembangunan infrastruktur karena itu juga menjadi kebutuhan penting masyarakat.
Pertimbangan memilih Muetazim?
Keberlanjutan adalah prinsip utama kami. Mengusung konsep Maros Sejuk. Sejahtara, Religious, Jujur, Unggul, Kontinyu (berkelanjutan).
Saya percaya ini sudah menjadi takdir Allah. Saya adalah politisi murni dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di politik, sementara Muetazim adalah birokrat sejati. Jabatan terakhirnya adalah Kepala Dinas PU. Dengan latar belakang teknisnya, saya yakin beliau bisa membantu memaksimalkan program pembangunan ke depan. Pembagian tugas pun menjadi lebih jelas dan bisa saling melengkapi.
Momen berkesan saat kampanye?
Dua bulan kampanye, saya bisa full energi karena harus cuti dari tugas sebagai bupati. Momen paling berkesan bagi saya adalah ketika mengunjungi daerah-daerah terpencil seperti Wanua aru di atas gunung, berbatasan dengan Kabupaten Bone dan Soppeng.
Saya juga mendatangi Bontomanurung di Kecamatan Tompobulu yang berbatasan dengan Gowa. Di sana, saya mendengar langsung keluh kesah dan harapan masyarakat.
Semangat mereka untuk berkontribusi dalam pembangunan sungguh luar biasa. Begitu pula warga di pesisir seperti di Kuri dan Bontoa. Meskipun ada keterbatasan anggaran dan beberapa kewenangan ada di tingkat provinsi atau pusat, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi harapan mereka.
Kami berkomitmen untuk menjadikan Maros sebagai kabupaten inklusif yang melayani semua warganya tanpa membeda-bedakan. No one left behind.
Budaya literasi di Maros?
Peningkatan literasi di Maros sangat signifikan. Saat saya pertama menjabat sebagai bupati pada 2021, Indeks Pembangunan Literasi Manusia (IPLM) kami hanya sekitar 25 persen. Itu angka yang cukup rendah, sehingga kami melakukan gerakan literasi secara masif.
Kami membentuk Bunda Literasi dari tingkat desa hingga kelurahan, bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional untuk menerapkan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Awalnya, hanya empat desa yang menjadi percontohan, tetapi sekarang 53 desa di Maros sudah mengadopsi konsep ini.
Hasilnya?
Di Maros, perpustakaan bukan sekadar tempat membaca atau menyimpan buku, tetapi menjadi ruang aktivitas dan interaksi sosial. Pemuda bisa berdiskusi, ibu-ibu bisa berkumpul, dan semua warga bisa belajar keterampilan baru. Selain itu, ada program Babinsa Perpustakaan Keliling serta dukungan berbagai kelompok literasi.
Hasilnya, IPLM Maros kini melonjak ke 82 persen. Ini bukan hanya kerja saya, tetapi juga kerja sama semua stakeholder yang terlibat. Alhamdulillah, penghargaan dari Perpustakaan Nasional menjadi bukti bahwa Maros semakin maju dalam budaya literasi.
Tiga Ranperda diajukan?
Ranperda tentang Kepemudaan, Ketenagakerjaan, dan pencabutan beberapa Perda yang sudah tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dua Ranperda utama ini, yaitu Ketenagakerjaan dan Kepemudaan, sangat penting untuk masa depan Maros.
Berkaitan dengan bonus demografi?
Maros saat ini sudah mengalami bonus demografi. Sebanyak 52 persen penduduknya berusia antara 15 hingga 35 tahun. Ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk kita adalah generasi muda. Oleh karena itu, kita perlu kebijakan yang mendukung mereka, baik dalam hal kepemudaan maupun ketenagakerjaan.
Strategi membuka lapangan kerja?
Mempermudah investasi. Kami memiliki Mall Pelayanan Publik yang akan memudahkan investor untuk berinvestasi di Maros. Selain itu, kami juga menyiapkan berbagai program pelatihan untuk meningkatkan keterampilan anak muda, seperti kerja sama dengan Balai Diklat Industri dan program petani milenial dari Kementerian Pertanian.
Selain mendukung investasi, kami juga berusaha memastikan bahwa pemuda Maros memiliki keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Ini dilakukan melalui pelatihan dan peningkatan kapasitas (capacity building) agar mereka bisa mandiri dan tidak hanya bergantung pada pekerjaan sebagai ASN.
Minat pemuda di pertanian?
Masih perlu ditingkatkan. Banyak yang menganggap pertanian adalah pekerjaan untuk generasi tua. Padahal, jika anak muda yang terjun ke sektor ini, maka efektivitas, produktivitas, dan inovasi akan meningkat. Kami juga mengirimkan beberapa pemuda ke Jepang untuk belajar pertanian modern dan menerapkannya di Maros.
Ada fasilitas khusus?
Kami memiliki Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) yang menyediakan konsultasi gratis bagi mereka yang ingin memulai usaha. Selain itu, ada Rumah Kemasan untuk membantu pelaku usaha dalam desain produk dan kemasan, serta Sentra Industri Gula Aren di Tompobulu sebagai pusat produksi bagi masyarakat.
Pelayanan publik?
Kami berkomitmen menjadikan Maros sebagai kabupaten inklusif. Pelayanan administrasi kependudukan, misalnya, akan kami upayakan agar bisa dilakukan di tingkat desa atau kecamatan, sehingga masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke kabupaten.
Biar rileks?
Saya sangat senang bertemu dengan masyarakat. Ada yang mengkritik saya karena tetap menghadiri acara warga seperti pernikahan dan sunatan, tapi bagi saya, silaturahmi dengan masyarakat itu penting. Ini membuat saya bahagia. Kalau ada aturan yang melarang Bupati hadir di acara warga, saya lebih baik berhenti jadi Bupati.
Strategi kelola APBD terbatas?
APBD kita sekitar Rp1,4-1,5 triliun dan 60 persen digunakan untuk operasional pegawai. Karena itu, kita harus melibatkan semua stakeholder dan masyarakat dalam pembangunan. Semangat gotong royong sangat penting untuk kemajuan daerah.
Prinsip Anda?
Do the best. Saat mendapat amanah, jalankan dengan sebaik mungkin. Dari awal karier saya sebagai petugas lapangan dengan gaji Rp50 ribu, saya selalu berusaha melakukan yang terbaik dan itu membuahkan hasil. Saya percaya jika kita bekerja dengan tulus dan ikhlas, masyarakat akan membalasnya dan Tuhan akan melihat usaha kita.
Pesan untuk penyelenggara Pemilu?
Saya mengucapkan terima kasih kepada KPU, Bawaslu, aparat keamanan, dan seluruh masyarakat Kabupaten Maros yang telah menyelenggarakan Pilkada dengan aman dan damai. Persaudaraan tetap harus dijaga, meskipun kemarin ada perbedaan pilihan. Mari bersama-sama membangun Maros yang lebih sejuk dan lebih baik.
(Tayang di Tribun-Timur.com pada Kamis 27 Februari 2025)







